Minggu, 11 Oktober 2015

# SIP Sistem Informasi Psikologi

Informasi bukanlah hal yang asing lagi bagi kita. Setiap hari kita mendapatkan informasi melalui berbagai macam sumber. Informasi merupakan hal yang sangat penting karena dapat memberikan pengetahuan terhadap berbagai macam bidang ilmu termasuk psikologi. Untuk lebih memahami menganai informasi dan system informasi psikologi ada baiknya jika kita menguraikannya.

1.      Sitem Informasi.
Informasi merupakan data yang telah diproses menurut sekumpulan aturan dan telah memiliki arti atau nilai. Infromasi menurut sumbernya dibagi menjadi 2, yaitu sumber primer dimana informasi didapatkan secara langsung melalui wawancara, observasi, survey dan lainlain. Lalu ada juga sumber sekunder dimana informasi didapatkan secara tidak langsung seperti melalui artikel, jurnal, publikasi, dan lain-lain.
Informasi yang terkumpul akan membentuk system informasi. Sistem merupakan kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem informasi merupakan seperangkat komponen untuk mengumpulkan, mengirim, menyimpan, dan memproses data yang saling terorganisir untuk meberikan informasi. (Zwass, 1998)
Sistem informasi tersebut terdiri dari komponen-komponen yang disebut blok bangunan (building blok), yang terdiri dari komponen input, komponen model, komponen output, komponen teknologi, komponen hardware, komponen software, komponen basis data, dan komponen kontrol. Semua komponen tersebut saling berinteraksi satu dengan yang lain membentuk suatu kesatuan untuk mencapai sasaran.
1.      Komponen input
Input mewakili data yang masuk kedalam sistem informasi. Input disini termasuk metode
dan media untuk menangkap data yang akan dimasukkan, yang dapat berupa dokumendokumen dasar.
2.      Komponen model
Komponen ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika, dan model matematik yang akan memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data dengan cara yag sudah ditentukan untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan.
3.      Komponen output
Hasil dari sistem informasi adalah keluaran yang merupakan informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua pemakai sistem.
4.      Komponen teknologi
Teknologi merupakan “tool box” dalam sistem informasi, Teknologi digunakan untuk
menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, neghasilkan dan
mengirimkan keluaran, dan membantu pengendalian dari sistem secara keseluruhan.
5.      Komponen hardware
Hardware berperan penting sebagai suatu media penyimpanan vital bagi sistem informasi.
Yang berfungsi sebagai tempat untuk menampung database atau lebih mudah dikatakan sebagai sumber data dan informasi untuk memperlancar dan mempermudah kerja dari sistem informasi.
6.      Komponen software
Software berfungsi sebagai tempat untuk mengolah,menghitung dan memanipulasi data yang diambil dari hardware untuk menciptakan suatu informasi.
7.      Komponen basis data
Basis data (database) merupakan kumpulan data yang saling berkaitan dan berhubungan satu dengan yang lain, tersimpan di pernagkat keras komputer dan menggunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya. Data perlu disimpan dalam basis data untuk keperluan penyediaan informasi lebih lanjut. Data di dalam basis data perlu diorganisasikan sedemikian rupa supaya informasi yang dihasilkan berkualitas. Organisasi basis data yang baik juga berguna untuk efisiensi kapasitas penyimpanannya. Basis data diakses atau dimanipulasi menggunakan perangkat lunak paket yang disebut DBMS (Database Management System).
8.      Komponen kontrol
Banyak hal yang dapat merusak sistem informasi, seperti bencana alam, api, te,peratur, air, debu, kecurangan-kecurangan, kegagalan-kegagalan sistem itu sendiri, ketidak efisienan, sabotase dan lain sebagainya. Beberapa pengendalian perlu dirancang dan diterapkan untuk meyakinkan bahwa halhal yang dapat merusak sistem dapat dicegah ataupun bila terlanjur terjadi kesalahan-kesalahan dapat langsung cepat diatasi.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa system informasi merupakan informasi yang terdiri dari seperangkat komponen yang mengumpulkan, mengirim, menyimpan, dan memproses data yang saling terorganisir untuk meberikan informasi.

2.      Psikologi
Kata psikologi berasal dari kata psyche artinya jiwa dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi psikologi berarti ilmu pengetahuan tentang jiwa atau ilmu jiwa (Basuki, 2008). Selain itu beberapa tokoh juga telah mendefinisikan psikologi. Seperti Wundt yang mendefinisikan psikologi sebagai ilmu tentang kesadaran manusia, Woodworth dan Marquis yang mendefinisikan psikologi sebagai ilmu yang mempelajari aktivitas manusia (motorik, kognitif, dan emosional), dan Branca yang mendefinisikan psikologi sebagai ilmu yang mempelajari manusia.

Dari kedua uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sistem informasi psikologi merupakan informasi yang terdiri dari seperangkat komponen yang mengumpulkan, mengirim, menyimpan, dan memproses data yang saling terorganisir untuk meberikan informasi kesadaran dan aktivitas serta perilaku manusia.



 Daftar referensi
Basuki, A. M. Basuki. (2008). Psikologi umum. Jakarta: Gunadarma
Zwass, Vladimir. (1998).Information Systems. Singapore: McGraw-Hill
http://apr1l-si.comuf.com/SI.pdf (diakses pada 11 Oktober 2015, 17. 23 WIB)

# SIP Etika Menulis Artikel Online


“… belakangan ini semakin marak muncul hujatan-hujatan di media sosial yang seakan-akan berdalih memberikan saran dan kritikan terhadap pihak yang mereka anggap perlu dikritik.
Namun yang terjadi, bukannya kritikan dan saran yang diberikan. Melainkan banyak hujatan yang merebak di media sosial. Terbukti, belakangan ini banyak muncul akun anonim di media sosial.”


-Bramantyo, Okezone.com-
Kasus-kasus serupa seperti artikel diatas sangat marak terjadi, bukan hanya di media sosial bahkan juga terjadi di dalam artikel-artikel. Sharon Scull (dalam Prasetya, 2005) mengatakan bahwa artikel merupakan suatu bentuk karangan yang berisi analisis suatu fenomena alam atau sosial dengan maksud untuk menjelaskan siapa, apa, kapan, dimana, bagaimana, dan mengapa fenomena alam atau sosial tersebut dapat terjadi. Suatu artikel kadang-kadang juga menawarkan suatu alternative bagi pemecahan suatu masalah.
Maka penting dan sudah seharusnya jika dalam membuat artikel penulis harus melihat isi artikel yang mereka buat. Prasetya (2005) dalam menulis artikel, penulis harus memperhatikan sifat khalayak dan media, dan isi artikel harus actual. Tetapi selain itu penulis juga tidak boleh melupakan etika ketika membuat sebuat artikel.
Secara singkat, etika berasal dari bahasa yunani ethos dalam bentuk tunggal yang berarti tempat tinggal, padanfg rumput, kandang, adat, kebiasaan, watak, perasaan sikap, dan cara berpikir. Sementara ta etha dalam bentuk jamak berarti adat kebiasaan. Dari arti kata tersebut dapat disimpulkan bahwa etika dapat definisikan sebagai ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu mengenai adat kebiasaan. (Bertens, 2004). Etika berkaitan dengan berbagai masalah nilai karena etika pada dasarnya membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan predikat nilai “susila” dan tidak susila, “baik dan buruk”. (Kaelan, 2010)
Dalam dunia maya, etika sering disebut sebagai netiquette. Netiquette merupakan kode etik perilaku yang tidak baku mengenai apa yang boleh dan tidak diperbolehkan dalam berinternet (Einstein,1996). Secara lebih jelas. Netiquette adalah singkatan dari “network etiquette” atau “internet etiquette”. Secara mudah. Netiquette (Netiket) adalah etiket di jaringan dunia maya. Etiket tersebut dibawa pada saat menggunakan internet, dari email yang bersifat personal hingga forum digital seperti forum board, social networking, chat dan sebagainya. Sama seperti halnya sebuah komunitas, forum digital juga mempunyai aturan dan tata tertib tertentu, dimana aturan ini menyangkut batasan dan cara yang terbaik dalam memanfaatkan fasilitas internet. (DMD Binus)
Jadi, sebagai penulis artikel penting sekali untuk tidak melupakan etika dalam menulis. Karena artikel yang ditulis merupakan sumber informasi bagi orang banyak. Penulis harus bisa memberika informasi yang benar dan sesuai aturan agar dapat memberikan hal yang bermanfaat bagi para pembacanya.



Daftar referensi
Bertens, K. (2004). Etika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Bramantyo. (2015). Marak Hujatan di Medsos, Ganjar Usulkan Polisi Komunikasi. http://news.okezone.com/read/2015/10/11/512/1229982/marak-hujatan-di-medsos-ganjar-usulkan-polisi-komunikasi. (diakses pada 11 Oktober 2015,16.57 WIB)
DR. Kaelan, M.S. (2010). Pendidikan pancasila. Yogyakarta: Paradigma
Einstein, David. (1996). America online for busy people. California: McGraw-Hill
Prasetya, Daru. (2005). Rahasia menulis di media massa. Yogyakarta: DIGLOSSIA
http://dmd.binus.ac.id/2012/06/netiquette/ (diakses pada 7 Oktober 2015, 21.22 WIB)

Selasa, 20 Januari 2015

Stress dan Konflik Dalam Manajemen

Dalam suatu organisasi pasti terdapat bebagai macam orang dengan berbagai sifat dan kebutuhan. Tingkat toleransi terhdap tekanan mereka pun berbeda-beda. Ketika stress terjadi, kinerja pun akan menurun dan mengganggu aktifitas organisasi. Begiu pula dengan konflik yang dapat terjadi karena kebutuhan tiap individu yang saling tumpang tindih dalam organisasi. Maka dari itu, kali ini saya akan membahas stress dan konflik yang terjadi dalam suatu manajemen

Stress
Kata stress bermula dari kata latin yaitu “Stringere” yang berarti ketegangan dan tekanan. Stress merupakan suatu yang tidak diharapkan yang muncul karena tingginya suatu tuntutan lingkungan pada seseorang. Keseimbangan antara kemampuan dan kekuatan terganggu. Bilamana stress telah mengganggu fungsi seseorang, dinamakan distress. Distress kebanyakan dirasakan orang jika situasi menekan dirasakan terus-menerus (tugas yang berat atau tugas yang dikakukan karena tugas dilakukan dengan situasi yang tidak kondusif atau stress yang dilakukan dengan dasar rasa trauma).
Adapun hal-hal yang menjadi sumber penyebab terjadinya stress adalah sebagai berikut :
1.      Faktor Lingkungan
1.      Ketidakpastian ekonomi
misalnya orang merasa cemas terhadap kelangsungan pekerjaan mereka.
2.      Ketidakpastian  politik
misalnya adanya peperangan akibat perebutan kekuasaan.
3.      Perubahan teknologi
misalnya dengan adanya alat-alat elektronik dll, munculnya bom dimana-mana.

2.      Faktor Organisasional
1.      Tuntutan tugas
misalnya desain pekerjaan individual, kondisi pekerjaan, dan tata letak fisik  pekerjaan.
2.      Tuntutan peran
misalnya ada peran beban yang berlebihan dalam organisasi.
3.      Tuntutan antarpersonal
misalnya tidak adanya dukungan dari pihak tertentu atau terjalin hubungan yang buruk.

3.      Faktor Personal
1.      Persoalan keluarga
misalnya kesulitan dalam mencari nafkah dan retaknya hubungan keluarga.
2.      Persoalan ekonomi
misalnya apa yang dimilikinya tidak memenuhi apa yang didambakan.

Stress tersebut dapat ditangani dengan manajemen stress. Manajemen stress adalah kemampuan penggunaan sumber daya (manusia) secara efektif untuk mengatasi gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang muncul karena tanggapan (respon). Tujuan dari manajemen stress itu sendiri adalah untuk memperbaiki kualitas hidup individu itu agar menjadi lebih baik.
Ada dua pendekatan dalam manajemen stress, yaitu :
1.      Pendekatan Individual
Pendekatan yang dipusatkan pada individu yang bersangkutan. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan cara penerapan manajemen waktu, penambahan waktu olah raga, pelatihan relaksasi, dan perluasan jaringan dukungan sosial.

2.      Pendekatan Organisasional
Pendekatan ini berpusat pada lingkungan kerja organisasi yang bersangkutan. Biasanya dilakukan dengan menciptakan iklim organisasional yang mendukung, penyeleksian personel dan penempatan kerja yang lebih baik, mengurangi konflik dan mengklarifikasi peran organisasional, penetapan tujuan yang realistis, pendesainan ulang pekerjaan, perbaikan dalam komunikasi organisasi, membuat bimbingan konseling.

Selain itu ada pula pendekatan individual terhadap stress. Hal ini dilakukan dengan cara relaksasi dan meditasi.

Konflik
Konflik adalah suatu pertentangan yang terjadi antara apa yang diharapkan oleh seseorang terhadap dirinya, orang lain, organisasi dengan kenyataan apa yang diharapkannya. Konflik dapat berupa perselisihan (disagreement), adanya ketegangan (the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antara kedua belah pihak, sampai kepada tahap di mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai penghalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing-masing.
Faktor-faktor yang mempengaruhi konflik
Faktor-faktor yang mempengaruhi konflik dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu faktor intern dan factor ekstern.
1.      Faktor intern
1.      Kemantapan organisasi
Organisasi yang telah mantap lebih mampu menyesuaikan diri sehingga tidak mudah terlibat konflik dan mampu menyelesaikannya. Analoginya dalah seseorang yang matang mempunyai pandangan hidup luas, mengenal dan menghargai perbedaan nilai dan lain-lain.
2.      Sistem nilai
Sistem nilai suatu organisasi ialah sekumpulan batasan yang meliputi landasan maksud dan cara berinteraksi suatu organisasi, apakah sesuatu itu baik, buruk, salah atau benar.
3.      Tujuan
Tujuan suatu organisasi dapat menjadi dasar tingkah laku organisasi itu serta para anggotanya.
4.      Sistem lain dalam organisasi
Seperti sistem komunikasi, sistem kepemimpinan, sistem pengambilan keputusan, sistem imbalan dan lain-lain. Dlam hal sistem komunikasi misalnya ternyata persepsi dan penyampaian pesan bukanlah soal yang mudah.
2.      Faktor ekstern
1.      Keterbatasan sumber daya
Kelangkaan suatu hal yang dapat menumbuhkan persaingan dan seterusnya dapat berakhir menjadi konflik.
2.      Kekaburan aturan/norma di masyarakat
Hal ini memperbesar peluang perbedaan persepsi dan pola bertindak.
3.      Derajat ketergantungan dengan pihak lain
Semakin tergantung satu pihak dengan pihak lain semakin mudah konflik terjadi.
4.      Pola interaksi dengan pihak lain
Pola yang bebas memudahkan pemamparan dengan nilai-nilai ain sedangkan pola tertutup menimbulkan sikap kabur dan kesulitan penyesuaian diri.

Manajemen Konflik dapat dilakukan dengan cara:
1.      Pemecahan masalah (Problem solving)
2.      Tujuan tingkat tinggi (Lipsordinate Goal)
3.      Perluasan sumber (Expansion of Resources)
4.      Menghindari konflik (Avoidance)
5.      Melicinkankan konflik (Smoothing)
6.      Kompromi (Compromise)
7.      Perintah dari wewenang ( Authoritative Commands)
8.      Mengubah variabel manusia (Alteringthe Human Variables)
9.      Mengubah varabel structural (Altering the Structural Variables)
10.  Mengidentifikasi musuh bersama (Indetifying a Common Enemy)

Para manajer dan karyawan memiliki beberapa strategi dalam menangani dan menyelesaikan konflik. Strategi tersebut antara lain adalah:
1) Menghindar
Menghindari konflik dapat dilakukan jika isu atau masalah yang memicu konflik tidak terlalu penting atau jika potensi konfrontasinya tidak seimbang dengan akibat yang akan ditimbulkannya. Penghindaran merupakan strategi yang memungkinkan pihak-pihak yang berkonfrontasi untuk menenangkan diri. Manajer perawat yang terlibat didalam konflik dapat menepiskan isu dengan mengatakan “Biarlah kedua pihak mengambil waktu untuk memikirkan hal ini dan menentukan tanggal untuk melakukan diskusi”
2) Mengakomodasi
Memberi kesempatan pada orang lain untuk mengatur strategi pemecahan masalah, khususnya apabila isu tersebut penting bagi orang lain. Hal ini memungkinkan timbulnya kerjasama dengan memberi kesempatan pada mereka untuk membuat keputusan. Perawat yang menjadi bagian dalam konflik dapat mengakomodasikan pihak lain dengan menempatkan kebutuhan pihak lain di tempat yang pertama.
3) Kompetisi
Gunakan metode ini jika anda percaya bahwa anda memiliki lebih banyak informasi dan keahlian yang lebih dibanding yang lainnya atau ketika anda tidak ingin mengkompromikan nilai-nilai anda. Metode ini mungkin bisa memicu konflik tetapi bisa jadi merupakan metode yang penting untuk alasan-alasan keamanan.
4) Kompromi atau Negosiasi
Masing-masing memberikan dan menawarkan sesuatu pada waktu yang bersamaan, saling memberi dan menerima, serta meminimalkan kekurangan semua pihak yang dapat menguntungkan semua pihak.
5) Memecahkan Masalah atau Kolaborasi
1.      Pemecahan sama-sama menang dimana individu yang terlibat mempunyai tujuan kerja yang sama.
2.      Perlu adanya satu komitmen dari semua pihak yang terlibat untuk saling mendukung dan saling memperhatikan satu sama lainnya.

Sumber
Yunita, Kho. 10 desember 2013. “Stress dalam organisasi”. https://khoyunitapublish.wordpress.com/2013/12/10/makalah-stress-dalam-organisasi/ (diakses 20 Januari 2015)
Ossy. 12 Mei 2010. “Manajemen konflik dan stress kerja”. http://ossy-strees-iseng.blogspot.com/2010/05/sadness-hollow-loveless.html. (diakses 20 Januari 2015)

Selasa, 13 Januari 2015

Control Dalam Manajemen

Control merupakan hal yang sangat penting dalam manajemen. Suatu kelompok atau organisasi terdiri dari berbagai macam orang yang memiliki kondisi masing-masing. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi kinerja perorangan maupun target kelompok organisasi. Oleh karena itu dibutuhkan control oleh pihak manajemen.
Menurut konsep modern kontrol adalah tindakan meramalkan sedangkan konsep awal pengendalian hanya digunakan ketika kesalahan terdeteksi. Kontrol dalam manajemen berarti menetapkan standar, mengukur kinerja aktual dan mengambil tindakan korektif.

Control menurut para tokoh
EFL Breach berpendapat bahwa pengendalian adalah perbandingan kinerja saat ini terhadap standar yang telah ditentukan yang terkandung dalam rencana, dengan maksud untuk memastikan kemajuan yang memadai dan kinerja yang memuaskan.
Harold Koontz menyatakan bahwa pengendalian adalah pengukuran dan koreksi kinerja dalam rangka untuk memastikan bahwa tujuan-tujuan perusahaan dan rencana yang dirancang untuk mencapainya tercapai.
Menurut Robert J. Mockler, kontrol manajemen dapat didefinisikan sebagai upaya sistematis oleh manajemen bisnis untuk membandingkan kinerja dengan standar yang telah ditentukan, rencana, atau tujuan untuk menentukan apakah kinerja sejalan dengan standar tersebut dan mungkin untuk mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk melihat bahwa manusia dan sumber daya perusahaan lainnya yang digunakan dengan cara yang paling efektif dan efisien mungkin dalam mencapai tujuan perusahaan.
Dari definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa ada hubungan yang erat antara perencanaan dan pengendalian. Perencanaan adalah suatu proses dimana tujuan organisasi dan metode untuk mencapai tujuan ditetapkan dan pengendalian adalah proses yang mengukur dan mengarahkan kinerja aktual kepada tujuan yang direncanakan organisasi. 

Empat elemen dasar dalam sistem kontrol
1.      Karakteristik atau kondisi yang akan dikontrol
Elemen pertama adalah karakteristik atau kondisi dari sistem operasi yang akan diukur. Karakteristik dapat berupa output dari sistem dalam tahap pemrosesan atau mungkin suatu kondisi yang merupakan hasil dari sistem. Sebagai contoh dalam sistem sekolah dasar para jam kerja guru atau keunggulan pengetahuan yang ditunjukkan oleh siswa pada ujian nasional adalah contoh karakteristik yang dapat dipilih untuk pengukuran atau kontrol.
2.      Sensor
Elemen kedua kontrol adalah sensor, merupakan sarana untuk mengukur karakteristik atau kondisi. Sebagai contoh dalam sistem kontrol pengukuran kualitas dapat diandaikan oleh inspeksi visual dari produk.
3.      Komparator
Elemen ketiga kontrol adalah komparator, menentukan kebutuhan koreksi dengan membandingkan apa yang terjadi dengan apa yang telah direncanakan. Beberapa penyimpangan dari rencana adalah biasa dan diharapkan, tetapi ketika berada di luar variasi yang dapat diterima tindakan korektif diperlukan. Ini melibatkan semacam tindakan pencegahan yang menunjukkan bahwa kontrol yang baik sedang dicapai.
4.      Aktivator
Unsur keempat kontrol adalah aktivator, adalah tindakan korektif diambil untuk mengembalikan sistem ke output yang diharapkan. Contohnya adalah seorang karyawan diarahkan ulang untuk bagian-bagian yang gagal lulus pemeriksaan mutu atau kepala sekolah yang memutuskan untuk membeli buku-buku tambahan untuk meningkatkan kualitas siswa. Selama rencana dilakukan dalam batas-batas yang diijinkan tindakan korektif tidak diperlukan.

Proses Control
Pengendalian dapat dilakukan melalui tahap-tahap yang telah ditentukan berdasarkan perencanaan yang telah disusun sebelumnya. Pendapat tentang pengendalian banyak dilakukan oleh para ahli, antara lain menurut pendapat Hasibuan proses pengendalian atau control dapat dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut :
a. Menentukan standar-standar atau dasar untuk melakukan control;
b. Mengukur pelaksanaan kerja;
c. Membandingkan pelaksanaan dengan standar dan menentukan deviasi
d. Melakukan tindakan-tindakan perbaikan jika terdapat penyimpangan (deviasi) agar pelaksanaan dan tujuan sesuai dengan rencana.
Jenis
Kontrol dapat dikelompokkan berdasarkan tiga klasifikasi umum :
1.      kontrol berulang terbuka atau tertutup
2.      Sistem kontrol manusia atau mesin
3.      kontrol organisasi atau operasional




Sumber
Samjaya, Albi. 24 November 2013. “Mengendalikan (Controlling) : Fungsi Manajemen”. https://deathneverlost.wordpress.com/2013/11/24/mengendalikan-controlling-fungsi-manajemen/ (Diakses Selasa 13 Januari 2015)
Wardah, Zahrotul. 16 April 2014. “Fungsi Controlling (Pengendalian / Pengawasan) Dalam Manajemen Pendidikan”. http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2014/04/16/fungsi-controlling-pengendalian-pengawasan-dalam-manajemen-pendidikan-649487.html (Diakses Selasa 13 Januari 2015)


Selasa, 28 Oktober 2014

Psychoanalytic diagnosis of top management team dysfunction

Pada kali ini saya akan mencoba untuk mereview jurnal mengenai psikologi management. jurnal yang saya review adalah Psychoanalitic diagnosis of top management team dysfunction. jurnal ini dipublikasikan oleh Journal of Managerial Psychology.

Jurnal yang dibuat oleh Jim Paul, Christy A Strbiak dan Nancy E Landrum ini berisi tentang analisis pada Pelatihan TMT (Top Management Team). Dengan latar belakang teori Bions tentang groups, Paul, Strbiak dan landrum mendiagnosis disfungsi pada pelatihan TMT dengan asumsi dasar bahwa perilaku disfunsi pada pelatihan TMT akan menghambat tim untuk mencapai tujuan secara efektif.

1.     Latar Belakang
Kebanyakan pelatihan memperlakukan individu sebagai target perubahan dan memasukan mereka kedalam kelompok yang para anggotanya tidak saling mengenal atau sekelompok pegawai dari kelompok organisasi yang mirip. Ketika target perubahannya adalah sebuah grup atau kelompok, akan lebih baik jika penyampaian pelatihan disampaikan kepada kelompok dengan anggota yang saling mengenal (family group). Family group ini biasanya terdiri dari teman-teman sekantor dan pimpinan mereka. Jika dibandingkan dengan kelompok yang anggotanya tidak saling kenal, bekerja dengan family group lebih dapat meningkatkan penrkembangan organisasi (Organization Development/OD).

2.      Permasalahan
Divisi fasilitas di Southwestern University ingin mengembangkan kinerjanya. Divisi ini berisikan staff yang tekun, pekerja keras, dan terdedikasi. Beberapa dari mereka sudah bekerja di sana lebih dari 20 tahun atau memiliki ayah atau paman yang bekerja di sana sebelum mereka. Beberapa pekerja sudah pernah dipromosikan menjadi supervisor. Divisi ini memiliki situasi yang banyak organisasi jumpai yaitu  supervisor yang handal tetapi tidak terlatih dalam hal managerial dan funsional departemen yang tidak saling berkomunikasi kecuali dalam hal pekerjaan.

3.      Metodologi
Subjek
Partisipan dalam pelatihan TMT ini adalah 10 anggota terbaik divisi fasilitas. Tim ini terdiri dari eksekutif wakil presiden dan dua orang seksi direksi. Dua orang lain yang melapor langsung ke eksekutif wakil presiden, lima kepala departemen yang melapor langsung ke seksi direksi dan seorang manager. Sembilan orang partisipan adalah laki-laki dan satu orang partisipan adalah perempuan. Eksekutif wakil presiden relative baru disbanding anggota tim yang lain. Semua anggota bekerja dari posisi bawah dan mendapatkan promosi  hingga menempati posisi yang sekarang kecuali eksekutif wakil presiden.

Prosedur
Pelatihan TMT yang disebutkan dalam artikel ini  menggunakan latihan low rope OMD yang dilakukan diluar kantor. Dua aktivitas utama adalah desser trolley dan maui-to-kuai. Pada desert trolley, kelompok diberikan dua buah papan panjang dan dua utas tali dengan panjang 12kaki. Kelompok difisualisasikan sedang berada di padang pasir yang sangan panas dan mereka harus berjalan tanpa menyentuh tanah. Kelompok harus mencari cara untuk sampai di ujung yang satunya.
Pada maui-to-kuai, kelompok diberikan dua buah mimbar dan dua buah papan dengan panjang yang berbeda. Mereka diminta menyebrang dari satu mimbar ke mimbar lainnya menggunakan dua buah papan yang sudah diberikan

4.     Landasan Teori
Inti dari teori Bion adala dalam setaia grup terdapat 2 grup, grup kerja dan kelompok asumsi dasar.. Kelompok kerja berusaha untuk melakukan tugas dan semua anggota terang-terangan menyadari tujuan, dan partisipasi mereka dalam, kelompok kerja. Kelompok asumsi dasar, sebaliknya, bertindak keluar dari asumsi sadar anggota kelompok. Seringkali terjadi disfungsional dalam asumsi dan perilaku mereka. Perilaku ini mengganggu dalam melaksanakan tugas kelompok kerja. Bion (1959) berpendapat bahwa kelompok kerja sama dengan ego yang sehat dan diidentifikasi dengan 3 asumsi dasar:
1.      Dependensi
2.      Fight-flight
3.      Pairing

5.     Hasil Penelitian
Asumsi dasar yang dideskripsikan oleh bion dapat dilihat. Proses dari valensi ketidaksadaran kolektif, dan kemampuan individu untuk menerima karakteristik yang diproyeksikan orang lain, mempengaruhi dinamika perilaku dalam family group. Individu anggota kelompok diam-diam memproyeksikan asumsi dasar yang mereka pegang tentang diri mereka sendiri, orang lain, dan lingkungan mereka ke orang lain di dalam dan di luar kelompok. Pada tingkat kelompok kerja, individu secara sadar berperilaku rasional. Pada tingkat asumsi dasar, individu tidak sadar berkolusi untuk mendukung atau menghambat kinerja tugas. Diagnosis TMT disajikan di atas adalah pada kelompok tingkat-of-analisis, tetapi kekuasaan dan otoritas di analisis tingkat-of-organisasi yang sensitif terhadap dinamika kelompok TMT.

6.     Kesimpulan Penelitian
Pelatihan TMT yang dijelaskan di atas bukanlah pelatihan yang sukses bagi peserta. Hal ini tidak terlalu mengherankan karena organisasi meminta intervensi pelatihan sebelum diagnosis masalah mereka. Ketika berhadapan dengan individu dan kelompok yang kuat dalam organisasi, pelatih dan konsultan harus hati-hati agar dapat lebih banyak menghasilkan sesuatau yang baik daripada yang buruk.
 Konsultan harus sangat rajin saat intervensi di tingkat atas sebuah organisasi sebelum melakukan wawancara di seluruh organisasi yang luas. Hal ini tidak pernah sampai menghabiskan dua tahun usaha OD intensif untuk menyelesaikan masalah yang diciptakan oleh intervensi OD positif. Sedangkan pengalihan keterampilan yang dipelajari dalam program pengembangan manajemen di luar ruangan untuk tempat kerja telah dipertanyakan.
 Latihan luar ruangan dapat menjadi alat diagnostik yang sangat baik untuk konsultan organisasi psychoanalytic informasi. Pengalaman kami adalah bahwa latihan OMD sangat berguna dalam mendiagnosis komunikasi, kekuatan, dan isu-isu kepemimpinan di antara anggota tim disfungsional. Pelatihan organisasi TMT dengan latihan pengalaman luar dapat membuat intervensi kedalaman psikologis yang cukup untuk memobilisasi kekuatan bawah sadar dan memungkinkan untuk diagnosis masalah organisasi yang terkait dengan otoritas, kekuasaan, dan kepemimpinan.

7.     Kelebihan dan Kekurangan
Jurnal ini memberikan deskripsi yang detail mengeanai prosedur pelatihan yang mereka gunakan. Hasil analisis data yang dimasukan kedalam jurnal ini juga membantu dalam memahami hasil penelitian. Akan tetapi tidak dijelaskannya alat ukur dan metode pengambilan data menjadi suatu kekurangan dalam jurnal ini.




Selasa, 07 Oktober 2014

Perencanaan Bisinis Menggunakan Pendekatan 5W1H

           Anda pasti sudah pernah mendengar 5W1H. Biasanya istilah ini digunakan dalam jurnalistik dan kesusastraan. Akan tetapi istilah ini juga dapat digunakan bahkan penting sekali untuk digunakan dalam perencanaan bisnis. Dalam artikel ini saya akan mencoba membuat perencanaan bisnis dengan pendekatan 5W1H.

1.      “What?” Bisnis apa yang akan dibuat?
            Biasanya dalam membuat bisnis seseorang harus melihat peluang dalam pasaran yang akan dimasuki. Akan tetapi menurut saya penting sekali untuk memilih bisnis yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Karena itu saya memilih untuk membuat bisnis penjualan eskrim. Mengapa eskrim? Karena selain sudah dikenal di masyarakat luas eskrim juga dapat dinikmati oleh berbagai macam lapisan masyarakat.

2.      “Who?” Siapa yang menjadi target?
Dalam menjual suatu barang atau jasa kita harus tahu kepada siapa kita jual barang atau jasa kita. Dalam kasus ini pertanyaannya adalah kepada siapa kita akan berjualan eskrim? Menurut saya target penjualan yang tepat untuk produk ini adalah anak-anak. Mengapa anak-anak? Pada umumnya eskrim memiliki rasa manis yang disukai anak-anak. Teksturnya pun lembut dan mudah cair dalam mulut sehingga anak-anak tidak perlu mangunyah dan tidak memakan waktu lama untuk mengkonsumsi eskrim. Sensasi dingin yang ditimbulkan oleh eskrim juga dapat membuat anak-anak lebih segara dan semangat untuk melanjutkan aktifitas.

3.      “Where?” Dimanakah barang tersebut akan dijual?
Menentukan lokasi pemasaran sangatlah penting dalam suatu bisnis. Agar penjualan dapat meningkat, tempat pemasaran dan target penjualan haruslah sesuai. Dalam bisinis ini target penjualan adalah anak-anak. Oleh karena itu tempat penjualan yang baik adalah tempat yang dekat dengan tempat anak-anak berkumpul seperti sekolah.

4.      “When?” Kapankah kita memasarkan barang tersebut?
Waktu pemasaran pun harus disesuaikan dengan tempat dan target pemasaran. Karena tempat pemasarannya adalah sekolah maka waktu berjualan pun pada saat jam sekolah.

5.      “why?” Mengapa kita memilih usaha tersebut?
Untuk memulai bisnis kita juga harus mengetahui mengapa kita memasarkan barang atau jasa tersebut. seperti yang telah disebutkan di atas, eskrim sudah dikenal masyarakat luas dan disukai berbagai macam lapisan masyarakat. Jadi walaupun hanya menargetkan anak-anak sebagai pembeli orang lain seperti orang tua murid yang sedang menunggu anaknya, pedagang, penduduk sekitar, bahkan orang yang kebetulan lewat daerah itu pun dapat membeli barang ini.

6.      “How?” Bagaimana memasarkan produk ini?
Pemasaran paling praktis ialah menggunakan stand. Akan tetapi eskrim bukanlah produk yang mudah dibuat. Untuk membuat eskrim kita membutuhkan alat pembuat eskrim. Alat ini pun cukup berat sehingga tidak dapat dibawa-bawa. Oleh karena itu penjualan eskrim yang paling praktis ialah menggunakan truk. Selain dapat membawa alat pembuat eskrim, truk juga dapat bergerak sehingga setelah jam pulang sekolah kita dapat melanjutkan penjualan eskrim di tempat lain.

Itulah perencanaan bisnis secara garis besar menggunakan pendekatan 5W1H. Perencanaan bisnis yang sebenarnya tidaklah sesimpel dan semudah contoh diatas. PERLU DIINGAT bahwa 5W1H tidak hanya memiliki 6 pertanyaan, tetapi masih banyak pertanyaan yang harus dijawab dari 5W1H saat membuat bisnis anda sendiri.

Sumber
http://www.hidayatjayagiri.net/2013/06/konsep-5w1h-dalam-menjalankan.html
                       


Minggu, 28 September 2014

Analisis Perusahaan

Nama Perusahaan : Nintendo Co. Ltd.
Bidang Penjualan : Game dan elektronik
Asal Perusahaan : Kyoto, Jepang

Siapa yang tak kenal dengan Sonic si landak super cepat, Mario si tukan ledeng dan Pikachu beserta ratusan pokemon lainnya? Ya, mereka adalah karakter dari beberapa game yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan gaming bernama Nintendo. Nintendo Co. Ltd. atau yang biasa kita kenal sebagai Nintendo adalah perusahaan pembuat game dan console game. Produk yang paling dikenal dari perusahaan ini antara lain NES, SNES, GameCube, Game Boy, dan Nintendo ds serta Nintendo Wii.

Awal mula dan sejarah singkat Nintendo Co. Ltd.
Perusahaan yang memiliki jajaran console game ternama dan ratusan game ini pada mulanya bukanlah sebuah perusahaan game elektronik. Pada awalnya Nintendo merupakan sebuah perusahaan pembuat kartu “Hanafuda”, sebuah permainan kartu asal jepang yang pada mulanya hanya dimainkan oleh kalangan bangsawan.
Perusahaan ini didirikan oleh seorang pengusaha asal jepang yang bernama Fusajiro Yamauchi pada tahun 1889 sebagai perusahaan pembuat kartu. Pada tahun 1950 cucunya, Hiroshi Yamauchi menggantikan pimpinan perusahaan ke-2. Pada masa jabatannya Hiroshi Yamauchi melihat batasan pada pasar penjualan kartu sehingga ia mulai memperluas pasar penjualan perisahaan ini.
Setelah bereksperimen di beberapa area bisnis lainnya Nintendo akhirnya meraih sukses penjualannya dalam bidang game dan elektronik setelah rilisnya game Donkey Kong pada tahun 1981. Sukses ini belanjut ke rilisnya game Mario yang akhirnya menjadi maskot perusahaan.
Hingga saat ini Nintendo masih terus menjaga kesuksesannya. Walaupun semakin luasnya pasar membuat Nintendo harus bersaing dengan perusahaan console dan pembuat game besar lainnya yang tak kalah hebat, Nintendo masih berusaha menjaga kesuksesannya dengan meluncurkan berbagai macam game dan console yang memiliki ciri khas ala Nintendo.

Pemimpin perusahaan dan analisis management
1.      Fusajiro Yamauchi (1889-1929)
Selain mendirikan perusahaan pembuat kartu, Fusajiro Yamauchi juga mempopulerkan kembali permainan kartu hanafuda yang pada zaman itu sudah tidak popular lagi. Ia mempopulerkan permainan kartu ini dengan inovasinya yaitu mebuat kartu hanafuda dengan gambar manual (gambar tangan). Hal ini juga memunculkan banyak perusahaan kartu lain dan memperluas pasar penjualan permainan kartu.

2.      Sekiryo Yamauchi (1929-1949)
Tidak banyak inovasi yang dilakukan oleh Sekiryo Yamauchi pada masa jabatannya. Ia menjaga kestabilan perusahaan ini hingga masa jabatannya berakhir.

3.      Hiroshi Yamauchi (1949-2002)
Kesuksesan awal dari perusahaan Nintendo berada pada masa jabatan Hiroshi Yamauchi. Selain terus mencoba dan mengembangkan hal baru ia juga memperluas pasar penjualan perusahaan ini. Ia pandai memprediksi permintaan pasar dan menggunakan prediksi ini untuk penjualan perusahaan. Hasilnya, perusahaan ini berhasil meraih sukses pada bidang game dan elektronik. Console pertama dari Nintendo juga merupakan salah satu buah pemikiran dari Hiroshi Yamauchi.

4.      Satoru Iwata (2002-sekarang)
Pada masa jabatan Satoru Iwata, Nintendo banyak mengalami perkembangan pada consolenya. Selain membuat console game yang unik, Nintendo juga memanfaatkan berbagai macam teknologi sehingga consolenya memiliki beberapa fitur menarik yang hanya dimiliki oleh console dari perusahaan ini.



Daftar Pustaka
http://classicgames.about.com/od/classicvideogames101/p/FusajiroYamauch.htm
nintendo.wikia.com/wiki/Fusajiro_Yamauchi
nintendo.wikia.com/wiki/Sekiryo_Yamauchi
nintendo.wikia.com/wiki/Hiroshi_Yamauchi
nintendo.wikia.com/wiki/Satoru_Iwata